• Sabtu, 06 Oktober 2012

      Sejarah dan Perkembangan Ilmu Hadits ( Bag : 3 )

      Sejarah dan Perkembangan Ilmu Hadits

       Periode Pertama (Jaman Rosul)

      - Para sahabat bergaul dan berinteraksi langsung dengan Nabi, sehingga setiap permasalahan atau hukum dapat ditanyakan langsung kepada Nabi.

      - Para sahabat lebih concern dengan menghapal dan mempelajari Al-Qur’an

      - Secara umum Rasulullah saw melarang menuliskan hadits karena takut tercampur baur dengan ayat Al-Qur’an karena wahyu sedang / masih diturunkan.

      - Secara umum sahabat masih banyak yang buta huruf sehingga tidak menuliskan hadits, mereka meriwayatkan hadits mengandalkan hafalan secara lisan.

      - Sebagian kecil sahabat –yang pandai baca tulis- menuliskan hadits seperti : Abdullah Bin Amr Bin Ash yang mempunyai catatan hadits dan dikenal sebagai “Shahifah Ash Shadiqah” juga Jabir Bin Abdullah Al Anshary mempunyai catatan hadits yang dikenal sebagai “Shahifah Jabir”

      - Pada event tertentu orang arab badui ingin fatwa Nabi dituliskan, maka Nabi meluluskan permintaannya untuk menuliskan hadits untuknya.

      - Para sahabat masih disibukkan dengan peperangan penaklukan kabilah-kabilah di seluruh jazirah Arab.

      - Para sahabat yang belum paham tentang suatu hukum bisa saling bertanya kepada yang lebih tahu dan saling mempercayai penuturannya.

       Periode Kedua (Masa Khulafaur Rasyidin)

      - Sebagian sahabat tersebar keluar jazirah Arab karena ikut serta dalam jihad penaklukan ke daerah Syam, Iraq, Mesir, Persia.

      - Pada daerah taklukan yang baru masuk Islam, Khalifah Umar menekankan agar mengajarkan Al-Qur’an terlebih dahulu kepada mereka.

      - Khalifah Abu Bakar meminta kesaksian minimal satu orang bila ada yang meriwayatkan hadits kepadanya.

      - Khalifah Ali meminta bersumpah orang yang meriwayatkan hadits

      - Khalifah Umar melarang sahabat besar keluar dari kota Madinah dan melarang memperbanyak periwayatan hadits.

      - Setelah Khalifah Umar wafat, sahabat besar keluar kota Madinah tersebar ke Ibukota daerah taklukkan untuk mengajarkan agama.


      . Periode Ketiga (Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in Besar)

      - Para sahabat besar telah terpencar kelur dari Madinah.
      - Jabir pergi ke Syam menanyakan hadits kepada sahabat Abdullah Bin Unais Al Anshary.
      - Abu Ayyub Al Anshary pergi ke Mesir menemui sahabat Utbah Bin Amir untuk menanyakan hadits.
      - Masa ini sahabat besar tidak lagi membatasi diri dalam periwayatan hadits, yang banyak meriwayatkan hadits antara lain :

      a. Abu Hurairah (5347 hadits)
      b. Abdullah Bin Umar (2360 hadits)
      c. Anas Bin Malik (2236 hadits)
      d. Aisyah, Ummul Mukminin (2210 hadits)
      e. Abdullah Bin Abbas (1660 hadits)
      f. Jabir Bin Abdullah (1540 hadits)
      g. Abu Sa’id Al Kudri (1170 hadits)
      h. Ibnu Mas’ud
      i. Abdullah Bin Amr Bin Ash

      - Pada waktu pemerintahan Khalifah Ali, terjadi pemberontakan oleh Muawiyah Bin Abu Sofyan, setelah peristiwa tahkim (arbitrase) muncul kelompok (sekte) kawarij yang memusuhi Ali dan Muawiyah. Setelah terbunuhnya Khalifah Ali, muncul sekte Syiah yang mendukung Ali dan keturunannya sementara kelompok jumhur (mayoritas) tetap mengakui pemerintahan Bani Umayah. Sejak saat itu mulai bermunculan hadits palsu yang bertujuan mendukung masing-masing kelompoknya. Kelompok yang terbanyak membuat hadits palsu adalah Syiah Rafidah.

       Periode Ke-empat (Masa Pembukuan Hadits)

      - Pada waktu Umar Bin Abdul Aziz (Khalifah ke-8 Bani Umayyah) yang naik tahta pada tahun 99 H berkuasa, beliau dikenal sebagai orang yang adil dan wara’ bahkan sebagian ulama menyebutnya sebagai Khulafaur Rasyidin yang ke-5, tergeraklah hatinya untuk membukukan hadits dengan motif :

      a. Beliau khawatir ilmu hadits akan hilang karena belum dibukukan dengan baik.

      b. Kemauan beliau untuk menyaring hadits palsu yang sudah mulai banyak beredar.

      c. Al-Qur’an sudah dibukukan dalam mushaf, sehingga tidak ada lagi kekhawatiran tercampur dengan hadits bila hadits dibukukan.

      d. Peperangan dalam penaklukan negeri negeri yang belum Islam dan peperangan antar sesama kaum Muslimin banyak terjadi, dikhawatirkan ulama hadits berkurang karena wafat dalam peperangan-peperangan tersebut.

      - Khalifah Umar menginstruksikan kepada Gubernur Madinah Abu Bakar Bin Muhammad Bin ‘Amr Bin Hazm (Ibnu Hazm) untuk mengumpulkan hadits yang ada padanya dan pada tabi’in wanita ‘Amrah Binti ‘Abdur Rahman Bin Sa’ad Bin Zurarah Bin ‘Ades, murid Aisyah-Ummul Mukminin.


      Khalifah Umar Bin Abdul Azis menulis instruksi kepada Ibnu Hazm :
      “Lihat dan periksalah apa yang dapat diperoleh dari hadits Rasulullah, lalu tulislah karena aku takut akan lenyap ikmu disebabkan meninggalnya ulama dan jangan anda terima selain hadits Rasulullah saw dan hendaklah anda sebarkan ilmu dan mengadakan majelis-majelis ilmu supaya orang yang tidak mengetahui dapat mengetahuinya, lantaran tidak lenyap ilmu hingga dijadikannya barang rahasia.”

      - Berdasarkan instruksi resmi Khalifah itu, Ibnu Hazm minta bantuan dan menginstruksikan kepada Abu Bakar Muhammad Bin Muslim Bin Ubaidillah Bin Syihab az Zuhry (Ibnu Syihab Az Zuhry)-seorang ulama besar dan mufti Hijaz dan Syam- untuk turut membukukan hadits Rasulullah saw.
      - Setelah itu penulisan hadits pun marak dan dilakukan oleh banyak ulama abad ke-2 H, yang terkenal diantaranya :

      a. Al-Muwaththa’, karya Imam Malik Bin Anas (95 H – 179 H).
      b. Al Masghazy wal Siyar, hadits sirah nabawiyah karya Muhammad Ibn Ishaq (150 H).
      c. Al Mushannaf, karya Sufyan Ibn ‘Uyainah (198 H)
      d. Al Musnad, karya imam Abu Hanifah (150 H)
      e. Al Musnad, karya imam Syafi’i (204 H)

       Periode ke-lima (Masa Kodifikasi Hadits)

      1. Periode Penyaringan hadits dari Fatwa-fatwa sahabat (abad ke-III H)

      - Menyaring hadits nabi dari fatwa-fatwa sahabat nabi
      - Masih tercampur baur hadits sahih, dhaif dan maudlu’ (palsu).
      - Pertengahan abad tiga baru disusun kaidah-kaidah penelitihan ke sahihan hadits.
      - Penyaringan hadits sahih oleh imam ahli hadits Ishaq Bin Rahawaih (guru Imam Bukhary).
      - Penyempurnaan kodifikasi ilmu hadits dan kaidah-kaidah pen sahihan suatu hadits.
      - Penyusunan kitab Sahih Bukhory
      - Penyusunan enam kitab induk hadits (kutubus sittah), yaitu kitab-kitab hadits yang diakui oleh jumhur ulama sebagai kitab-kitab hadits yang paling tinggi mutunya, sebagian masih mengandung hadits dhaif tapi ada yang dijelaskan oleh penulisnya dan dhaifnya pun yang tidak keterlaluan dhaifnya, ke enam kuttubus shittah itu adalah :

      a. Sahih Bukhory
      b. Sahih Muslim
      c. Sunan Abu Dawud
      d. Sunan An Nasay
      e. Sunan At-Turmudzy
      f. Sunan Ibnu Majah


      2. Periode menghafal dan meng isnadkan hadits (abad ke-IV H)

      - Para ulama hadits berlomba-lomba menghafalkan hadits yang sudah tersusun pada kitab-kitab hadits.
      - Para ulama hadits mengadakan penelitian hadits-hadits yang tercantum pada kitab-kitab hadits.
      - Ulama hadits menyusun kitab-kitab hadits yang bukan termasuk kuttubus shittah.


      3. Periode Klasifikasi dan Sistimasi Susunan Kitab-Kitab Hadits (abad ke-V H s.d 656 H, jatuhnya Baghdad)

      - Mengklasifikasikan hadits dan menghimpun hadits-hadits yang sejenis.
      - Menguraikan dengan luas (men syarah) kitab-kitab hadits.
      - Memberikan komentar (takhrij) kitab-kitab hadits.
      - Meringkas (ikhtisar) kitab-kitab hadits.
      - Menciptakan kamus hadits.
      - Mengumpulkan (jami’) hadits-hadits bukhory-Muslim
      - Mengumpulkan hadits targhib dan tarhib.
      - Menyusun kitab athraf, yaitu kitab yang hanya menyebut sebagian hadits kemudian mengumpulkan seluruh sanadnya, baik sanad kitab maupun sanad dari beberapa kitab.

      - Menyusun kitab istikhraj, yaitu mengambil sesuatu hadits dari sahih Bukhory Muslim umpamanya, lalu meriwayatkannya dengan sanad sendiri, yang lain dari sanad Bukhary atau Muslim karena tidak memperoleh sanad sendiri.

      - Menyusun kitab istidrak, yaitu mengumpulkan hadits-hadits yang memiliki syarat-syarat Bukhary dan Muslim atau syarat salah seorangnya yang kebetulan tidak diriwayatkan atau di sahihkan oleh keduanya.

      Periode ke-enam (dari tahun 656 H – sekarang)

      - Mulai dari jatuhnya Baghdad oleh Hulagu Khan dari Mongol tahun 656 H – sekarang ini.
      - Menertibkan, menyaring dan menyusun kitab kitab takhrij.
      - Membuat kitab-kitab jami’
      - Menyusun kitab-kitab athraf
      - Menyusun kitab-kitab zawaid, yaitu mengumpulkan hadits-hadits yang tidak terdapat dalam kitab-kitab yang sebelumnbya kedalam sebuah kitab yang tertentu.


      Bersambung ke ( Bag : 4 )

      0 komentar:

      Posting Komentar

      Subscribe To RSS

      Sign up to receive latest news